Toriq Kecil
Masa
kecil adalah masa menyenangkan, masa mengenal dan beradaptasi pada lingkungan.
Dibutuhkan perhatian khusus orang tua kepada anaknya mendidik dan
mengajarkannya budi pekerti agar menjadi anak berakhlakul karimah. Lingkungan
yang salah dan kurangnya perhatian orang tua kepada anaknya, menanamkan sedikit
demi sedikit akhlak ke dalam hatinya. Pola dalam beradaptasi yang berlebihan
kurang adanya batasan, dan ditambah lingkungan yang buruk membuat penanaman
akhlak jauh dari semestinya.
Untungnya
Toriq kecil hidup dalam ikatan keluarga islami yang di dalamnya ditegakkan
adab-adab Islami. Tak heran Ayahnya adalah seorang guru yang mengajarkan agama
dan ibunya seorang muslimah hebat yang berprofesi sebagai pegawai dalam sebuah
perkantoran. Toriq kecil memiliki dua adik, Fatan (6) dan Laila (3) , Toriq
sendiri berusia 8 tahun. Ayahnya sesering mungkin mendidik ketiga buah hatinya,
dengan berbagai cara yang misalnya berdoa sebelum makan, makan dengan tangan
kanan, praktek doa-doa, hafalan surat-surat pendek dan mengajak mereka sholat
berjamaah.
Toriq
kecil bisa dibilang anak yang penuh banyak aktivitas, selepas sekolah ia
mengerjakan PR , bermain layaknya anak-anak, sorenya ia mengaji bersama
teman-teman lingkungan yang biasa disebut TPA. Toriq anak yang cukup bandel
tetapi cerdas. Saat sholat berjamaah bersama Ayahnya di masjid, ketika imam
melantunkan surat tertentu tak jarang ia mengikuti meski agak mengganggu, bermain
ninja-ninjaan ketika sholat bersama Fatan, jahilin kakak yang lebih tua
usianya, tak jarang mereka kesal lalu memukul Toriq kecil hingga terlepas gigi
susunya. Toriq tidak menangis sebab dia tahu, dia yang salah. Toriq kecil tetap
memberitahu Ayahnya penyebab giginya lepas, dan dengan bijak Ayahnya bilang
jangan ulangi lagi lalu memberi beberapa petuah berharga.
Hari
itu malam rabu, Toriq sholat berjamaah seperti biasanya dengan masih dengan
budaya bermain-main bersama sang adik dan kedua kawan lainnya. Selepas sholat
Toriq kecil harus merasakan trauma dalam hatinya yang mungkin sulit dihapus,
ialah salah satu jamaah sholat ketika itu memarahinya dengan hebat dikarenakan
keberisikan mereka, “kalian gk usah sholat disini lagi ya dari kemarin berisik
melulu” kurang lebih seperti itu perkataannya. Dengan menatap raut wajah yang
sedih lalu Toriq bersama kawan-kawannya pergi, bagaimana dengan Ayah Toriq yang
menyaksikan reka tersebut. Sebagai seorang Ayah yang bijak ia lalu berkata
kepada sesepuh ini, “kalau bukan mereka yang meneruskan generasi kita siapa
lagi, kalau kita tidak mengajarinya sholat berjamaah lalu siapa yang mengisi
rumah Allah ini dikemudian hari”, kata-kata yang membuat penulis terdiam yang
awalnya sangat setuju dengan sikap sang sesepuh, sebab mengganggu kekhusuqan
Sholat. Yang saya sedihkan Toriq tak lagi sholat berjamaah di lingkungannya
bersama Ayahnya Toriq diajak sholat berjamaah di masjid luar yang agak jauh
dari lingkungannya, tidak bisa sholat bersama teman-temannya mungkin adalah hal
yang paling menyedihkan buat dia. Terlebih Ayahnya yang merasakan kejadian
tersebut.
Yup’
saya sering menemui mereka di masjid lain tersebut, dengan bersalam sapa kepada
mereka. Toriq kecil tak lagi bermain-main ketika sholatnya, tapi dalam
pikirannya masih terbayang peristiwa yang membuatnya trauma, selama
berbulan-bulan ini saya tak pernah melihat mereka sholat dimasjid yang dulu.
salam hangat dari bangSiomay